Harbolnas dan Nasib Produk UMKM Lokal

Harbolnas dan Nasib Produk UMKM Lokal.

Sejarah Harbolnas

KLARISAN.com-Harbolnas atau Hari Belanja Online Nasional dirayakan setiap tahun di tanggal 12 bulan 12 (Desember). Tidak hanya di Indonesia, perayaan hari belanja online ini juga diadakan di seluruh dunia, hanya saja istilah-istilah yang dipakai berbeda-beda. Di Amerika, Eropa dan Jepang misalnya, kegiatan pesta belanja online ini disebut Cyber Monday.

Di Indonesia sendiri pesta belanja online dicetuskan pertama kali pada tanggal 12 Desember 2012 dengan jargon 12.12.12 oleh beberapa market online store. Mereka tidak sekadar meraup keuntungan semata, namun juga mengedukasi masyarakat tentang kemudahan cara berbelanja online. Dari tahun ke tahun jumlah marketplace yang berpartisipasi dalam pesta belanja online semakin meningkat. Omset juga semakin naik seiring kenaikan jumlah masyarakat yang memanfaatkan Harbolnas untuk mendapatkan potongan harga atau diskon.

Dimasa lalu, perayaan pesta Harbolnas sempat dinodai praktek tifu-tifu oleh beberapa oknum pedagang online dengan memberikan diskon sampai 90%, akan tetapi harga barang sudah dinaikkan terlebih dahulu 10x lipat dari hari biasanya. Penulis masih ingat betul kejadian yang banyak disorot media seperti harga sepeda 24 juta dan didiskon 90%, sehingga seolah-olah murah. Padahal pada hari biasa produk tersebut harganya memang hanya sejutaan.

Setelah banyak mendapatkan sorotan miring dari bebagai media dan banyaknya netizen yang mengkritis 'fenomena' tersebut, akhirnya marketplace pun mengambil tindakan tegas bagi para penjual online yang menjadi member-nya. Sekarang pelaksanaan Harbolnas pun sudah semakin baik.

Banjir Produk Import

Tidak bisa dipungkiri, marketplace menjadi salah satu pintu masuk produk-produk import. Hal ni banyak mendapat sorotan meskipun beberapa waktu lalu seorang petinggi marketplace asing berkilah bahwa 70% lebih pedagang online adalah penjual lokal. Dilihat dari sisi penjual memang benar seperti itu, namun jika dilihat dari asal produk, yang katanya 'pengusaha lokal' tersebut adalah reseller-reseller dari para pemain importir besar.

Produk-produk lokal hampir tidak mampu bersaing di pasar online, terutama dari segi harga meskipun secara kualitas produk, tidak terlalu kalah dengan produk-produk import sejenis. Bahkan tidak jarang produk umkm terbukti lebih berkualitas. Hanya karena perilaku konsumen terpukau pada harga-harga yang murah (yang umumnya didominasi barang import Tiongkok) sehingga produk lokal kurang dilirik konsumen.

Baru Jadi Penonton

Ibarat pertandingan sepakbola, UMKM lokal masih sebatas jadi penonton di pinggir lapangan. Belum menjadi pemain utama di dalam lapangan. Jadi adanya perayaan Harbolnas belum memberi pengaruh signifikan bagi produk-produk lokal. Itulah nasib UMKM lokal dimana produk dan karya kreatifnya belum mampu menjadi raja di negeri sendiri. Bahkan bisa jadi, para pelaku UMKM lokal pun tidak tahu kalau hari ini Hari Belanja Online Nasional? Ataukah Harbolnas masih menjadi Hari Kebobolan Nasional bagi produk UMKM lokal?

Posting Komentar

Trending Today